Jumat, 20 April 2012

7 ROMBONGAN IBLIS


       Iblis akan senantiasa mengganggu manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.

Hadisth Rasulullah S.A.W. menerangkan:
"Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut. "

Rombongan 1
       Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat. disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barang2 Iblis itu, pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 2
       Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular yang berbisa. Yang apabila orang yang sedang sakaratul maut itu memandang ke binatang itu, maka dia pun menjerit dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 3
       Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan menyerupai binatang kesayangannya. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-rabakepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.

Rombongan 4
       Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya

Rombongan 5
       Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan penuh kasih "Wahai anakku inilah saja makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga. "

Maka dia pun sudi mengikut tawaran itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.

Rombongan 6
Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulama'-ulama' yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: "Wahai muridku, lama sudah kami menunggu akan dikau, ternyata kamu sedang sakit di sini, karena itu kami bawakan kepada kamu dokter dan obat untukmu. " Lalu diminumnya obat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang lagi. Lalu datang pula Iblis yang menyerupai ulama' dengan berkata: "Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?"
Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: "Aku tidak tahu. "

Berkata ulama' Iblis: "Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulama' yang tinggi dan hebat, baru saja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cobalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami. "

Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis untuk tujuan menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulama' palsu:
"Bagaimanakah Zat Allah?" Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.

Lalu berkata ulama' palsu: "Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu. "
Ketika tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat
melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

Berkata Iblis: "Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah. "
Berkata orang yang dalam sakaratul maut: "Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai enam sisi, yaitu benda besar ini ada kiri dan kanannya, mempunyai atas dan bawah, mempunyai depan dan belakang.

Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini. "

Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.

Rombongan 7
       Rombongan Iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan sebab dari menjadi 72 barisan ialah karena dia menepati Iktikad Muhammad S.A.W bahwa umat Muhammad akan terbagi kepada 73 barisan). Satu barisan/golongan yang benar yaitu ahli sunnah waljamaah, 72 yang lain masuk ke neraka karena sesat.

Ketahuilah bahwa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlainan di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hamper meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut.

Disebutkan dalam sebuah hadith yang artinya: "Ajarkan oleh kamu (orangyang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah. "

KEADILAN RASULULLAH S.A.W



Tatkala Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam merasa ajalnya sudah dekat, beliau mengumpulkan para sahabat. Kemudian, beliau menyampaikan pidatonya: “Sahabat-sahabatku sekalian! Ajalku mungkin sudah dekat, dan aku ingin menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan Anda sekalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya, sekarang ini juga aku minta maaf.”

       Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang pernah menimpa dirinya.

       “Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah S.A.W. pada saat Perang Badar. Ketika Rasulullah S.A.W. mengayunkan tongkat komandonya, kudaku menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Aku merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!”

       Nabi Muhammad S.A.W. menjawab, “Ya, ini ada qishos-nya jika kamu merasa sakit.” Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Tholib mengambil tongkat komandonya yang disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa tongkat komando, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menyerahkan kepada sahabatnya untuk melaksanakan qishos.

       Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika Rasulullah dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib tampil ke depan:
“Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini. Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan Umar agar mundur, sambil berkata, “Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi keadilan”.

       Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba sahabat yang siap jadi algojo itu berkata,: “Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya tidak pakai baju.” Mendengar itu langsung Rasulullah membuka bajunya di depan para sahabat.
Kulit Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tampak bercahaya, tetapi ciri  ketuaan sudah terlihat jelas.

       Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Tholib tampil lagi ke depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang di-qishos. Tapi, Rasulullah S.A.W. langsung memerintahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan sendiri demi keadilan.

       Tiba-tiba sahabat ini menjatuhkan tongkatnya langsung merangkul dan mencium Rasulullah S.A.W. dan berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak bermaksud melaksanakan qishos, saya hanya ingin melihat kulit Rasulullah S.A.W. menyentuh dan menciumnya. Sahabat-sahabat yang lain tersentak, gembira.

Rasulullah langsung berkata, “Siapa yang ingin melihat ahli surga, lihatlah orang ini.”
Kisah itu menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung nilai keadilan.
Beliau, sebagai kepala Negara sekaligus Nabi, sangat ikhlas menerima hukuman qishos dari rakyatnya sendiri".

PERANG BADAR AL-KUBRA


TIK : 1. Adik mengetahui karakteristik sahabat pada perang Badar
         2. Adik menjadikan Rasulullah Saw dan para sahabat sebagai idola 
            dalam kehidupan sehari-hari.



Mendengar berita kedatangan kafilah dagang orang Quraisy dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajak para Shahabatnya untuk mencegat dan merampas kafilah tersebut dengan dalih sebagai pengganti kekayaan mereka yang dirampas sebagian kaum musyrikin di Mekkah. Hanya sebagian shahabat yang ikut karena yang lain menyangka tidak akan terjadi peperangan.
Di tengah perjalanan, ketika Abu Sufyan mendengar berita ini, maka ia mengirim utusan ke Mekkah untuk meminta bantuan. Maka seluruh kaum Quraisy  mempersiapkan diri untuk tujuan perang. Tak ada satu tokoh Quraisy pun yang ketinggalan dari keberangkatan pasukan sekitar seribu personel ini.
Sementara Rasulullah berangkat bersama 314 sahabatnya pada malam Ramadhan bersama 70 ekor unta yang dipakai bergantian. Mereka tidak mengetahui perihal bantuan dari Mekkah itu. Sementara kafilah Abu Sufyan berhasil lolos meninggalkan dan menyusuri mata air Badr melalui jalan pantaimenuju arah Mekkah.
Meskipun Abu Sufyan telah mengirim utusan kepada pasukan bahwa dirinya telah selamat, namun Abu Jahal tetap melanjtkan perjalanannya.
Maka, ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mendengar berita keberangkatan kaum Quraisy, beliau meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Kaum Muhajirin mendukung dan memandang baik pendiriannya, salah satunya Miqdad bin Amir dengan tegas menyatakan : “Ya, Rasulullah laksanakan apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap bersama Anda…” Tetapi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam tetap memandang mereka seraya berkata,” Kemukakanlah pandangan kalian  kepadaku wahai manusia.” Kemudian S’ad bin Muadz menjawab,” Demi Allah tampaknya kalian meminta ketegasan sikap kami, wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab,”Benar !!”. S’ad berkata’”Kami telah beriman kepada anda dan kami pun membenarkan kenabian dan kerasulan Anda. Kami pun telah menjadi saksi bahwa apa yang telah anda bawa adalah benar. Atas dasar itu kami menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Jalankanlah apa yang Anda kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi Allah , seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun  ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersama anda…”
Mendengar jawaban Sa’ad ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam merasa puas dan senang, kemudian beliau memerintahkan : “Berangkatlah dengan hati gembira, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan. Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan…”
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mulai menyebar intel untuk mencari tahu perihal pasukan musush, dan diketahui bahwa pasukan musuh berjumlah sekitar sembilan ratus sampai seribu dan disertai seluruh tokoh kaum Quraisy.
Musuh bergerak sampai di pinggir sebelah seberang lembah Badar Sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah tiba di pinggir lembah seberang lain dengan posisi nyaris sehadap dengan lawan, dekat mata air Badr.
Habbab bin Mundzir bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah  SWT yang tidak dapat diubah lagi ? Ataukah berdasrkan tipu muslihat peperangan ?” Rasulullah Menjawab :” tempat ini kupilih berdasrkan pendapat dan tipu muslihat bpeperangan.” Al-Habab mengusulkan :”Ya Rasulullah, jika demikian ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh, kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Pendapatmu sungguh baik.”
            Rasulullah kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh al-Habbab ra. Selain itu, Sa’d bin Mu’adz mengusulkan supayta dibuat arisy (kemah) untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai tempat perlindungan dengan harapan bila terjadi sesuatu dan lain hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dapat kembali dengan mudah dan selamat kepada kaum muslimin di Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat karena ketidakberadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka. Usulan ini disetujui, kemudian  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menenangkan jiwa para shabatanya dengan adanya dukungan dan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, sampai-sampai beliau menegaskan kepada mereka :”Di sini tempat kematian si Fulan dan si Fulan (dari kaum musyrikin), seraya meletakkan telapak tangannya di atas tanah. Akhirnya nama-nama yang disebutkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat yang telah ditunjukkannya itu. Selanjutnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam  dengan khusyu memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wata’ala, do’a yang dipanjatkannya adalah : “Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang dating dengan segala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkanlah mereka esok hari…”
            Beliau terus memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan merendahkan diri dan khusyu seraya menengadahkan tangan ke langit, sehingga karena merasa iba Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepadanya : “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memberikan janji yang telah diberikan kepadamu.”
Demikian pula dengan kaum muslimin, mereka ikut pula berdo’a kepada Allah Subhanahu wata’ala memohon pertolongan dengan penuh ikhlas dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Pada suatu pagi, tahun kedua Hijrah, mulailah pertempuran itu. Memulainya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil segenggam kerikil kemudian dilemparkannya kearah kaum Quraisy seraya berkata :”Hancurlah wajah-wajah mereka,” kemudian meniupkan kearah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Selain itu Allah mendukung kaum muslimin dengan mengirim bala bantuan Malaikat.  Hal tersebut disaksikan seorang Quraisy yang kelak masuk Islam. Abu  Sufyan bin Harits (bukan bin Harb)  menceritakan hal tersebut pada Abu Lahab tatkala Abu Lahab  menunggu-nunggu berita peretempuran.


“Demi Allah ! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kauim yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami sehingga sembelih sesuka hati mereka , dan mereka tawan kami semau mereka…! Dan demi Allah  ! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy …! Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih , menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!”
Akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan kemenangan besar. Dari pihak kaum Musyrikin terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang sedang dari kaum Muslimin syahid 14 orang.
Meskipun begitu, perang Badar ini meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi kaum Muslimin maupun kaum musyrikin. Bagi kaum Muslimin, perang ini merupakan perang yang sangat diagungkan, juga para peserta yang ikut di dalamnya. Shahabat-shahabat yang ikut dalam perang Badar selalu diutamakan oleh shahabat yang lainnya dalam segala hal.
Demikian juga kaum Musyrikin sangat menorehkan dndam dalam diri-diri mereka akan seorang prajurit gagah berani dan perkasa, yaitu Khubaib bin ‘Adi yang membunuh pemimpin Quraisy al-Harits bin ‘Amir bin Naufal. Maka tatkala kaum Quraisy berkesempatan menangkap Khubaib bin ‘Adi, mereka membalaskan dendamnya itu dengan amat keji. Khubaib disiksa dan disalib hingga syahid.Atau kebencian Hindun akan Hamzah yang telah membunuh Ayah dan anaknya, hingga membalaskan dendamnya pada perang berikutnya, dengan dibantu budak hitamnya.
Begitulah, kejadian Badar menggoreskan pelajaran berharga buat kita petik. Keta’atan para shahabat kepada Allah dan Rasul-Nya membuat mereka tak gentar dalam menghadapi maut, sekalipun jumlah yang sedikit dan persiapan yang kurang, namun tetap mereka katakan, “Kami bersama Anda, ya Rasulullah…!”
Maroji' :
-          Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy , Sirah Nabawiyah
-          Khalid Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enampuluh Shahabat Rasulullah
-          Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy, Sirah Shahabat

SEBESAR APAPUN DOSA, KALAU MEMANG MAU BERTOBAT, TETAP AKAN ADA JALAN

SEBESAR APAPUN DOSA, KALAU MEMANG MAU BERTOBAT, TETAP AKAN ADA JALAN

( Riwayat oleh : Imam Bukhari Muslim, dari Abu Sa`id Al Khudri )

Pada zaman dahulu, ada seseorang yang ringan tangan dalam mencabuti nyawa-nyawa orang yang dijahatinya.Hampir setiap hari ada saja korbannya. Semuanya diahitung.Sampai suatu hari jumlah orang yang telah dibunuhnya telah mencapai 99 orang.Jadi boleh saja ia kita katakan sebagai penjagal manusia. Intinya ia mempunyai perilaku yang sangat kejam.Rupanya terselip rasa bersalah dihatinya. Lama-lama ia mulai merenungi dirinya selama ini, dan ternyata hidupnya sepanjang waktu bergelimang dosa.

" Aku ingin bertobat,jika aku terus-terusan hidup begini , maka aku pasti menyia-nyiakan hidupku. Aku telah aniaya selama ini.Aku ingin bertobat,...Aku mesti menyudahi semua ini dan segala perbuatan kejam lainnya. Tapi apakah itu mungkin ? Dosaku sudah terlampau berat." Demikian pikir si jahat ini dalam hati.

Ia kemudian memutuskan mencari bantuan orang yang akan bisa menolongnya ke arah itu. Maka pergilah sijahat tadi mencari orang alim dan ingin bertaubat didepannya.

Dalam pencariannya itu, bertepatan ada yang memberinya petunjuk untuk mendatangi seorang yang alim disebuah desa. Pergilah ia menemui orang alim itu.Setelah berada didepannya, maka pemuda jahat lagi kejam tadi menceritakan siapa dirinya dan maksud kedatangannya. " Hai orang alim, aku pembunuh yang sudah membunuh 99 nyawa orang. Apakah masih ada jalan bagi saya untuk bertaubat ?" Setelah mendengar penjelasan dari pemuda tadi, segera saja orang alim tersebut menjawab. "Tidak, tidak ada ! Tidak ada taubat untukmu karena perbuatan kamu itu terlalu sadis."

Mendengar jawaban orang alim tersebut semacam itu, marahlah ia dan seketika itu pula dibunuhnya lagi orang alim itu. Kini genaplah ia telah membunuh 100 nyawa orang. Karena hatinya ingin betul-betul bertaubat, ingin menyudahi perbuatan keji ini dengan sungguh-sungguh, maka ia tetap meneruskan untuk mencari lagi orang alim yang mau menerima penyesalannya. Sambil berjalan ia membatin," Kiranya gerangan siapakah dan dimana dari penduduk bumi ini yang terpandai dan alim ? Kepadanya akan aku haturkan penyesalan ini."

Bertemulah ia kepada orang alim yang lain. Kepada orang tua itu ia menceritakan bahwa ia sudah membunuh 100 orang. Dan, dengan penganiayaan yang keji ini, ia mempertanyakan apakah masih ada pintu taubat untuknya.Setelah mendengar keluh kesahnya dengan seksama, si orang tua yang alim ini akhirnya memberikan jawaban yang dinati-nanti. " Hai anak muda, tetap masih ada pintu taubat untukmu. Siapakah yang dapat menghalangi bila saudara ingin bertaubat ? Pergilah kedusun "anu". Disana ada banyak orang yang taat kepada Allah. Berbuatlah engkau sebagaimana mereka berbuat. Dan janganlah engkau kembali kenegrimu sebab dinegrimu banyak orang yang menyesatkan."

Setelah menerima saran-saran dari orang alim tadi, maka berjalanlah pemuda yang ingin bertaubat kearah dimana dusun itu ditunjukkan. Sayangnya ditengah-tengah perjalanan mendadak ia meninggal dunia.Kematiannya yang mendadak membuat malaikat rahmat dan malaikat siksa bertengkar. Pertengkaran ini mendebatkan, apakah orang ini tergolong orang-orang yang dhalim atau tergolong orang-orang yang selamat.

Dikatakan dhalim, tapi saat ia berjalan, ia membawa niat ingin bertaubat dan betul-betul menyesali tiap-tiap perbuatannya. Kata malaikat rahmat," Ia berjalan untuk bertaubat kepada Allah S.W.T dengan sepenuh hati."

Tapi kata malaikat siksa," Ia belum pernah melakukan kebajikan sama sekali.Pekerjaannya selalu membunuh. Dan ia pantas masuk neraka." Tak berapa lama, datanglah malaikat menyerupai manusia yang diutus menjadi penengah diantara pertengkaran itu. Ia berkata dengan tegas kepada malaikat-malaikat tersebut.

" Ukur saja diantara dusun yang dia tinggalkan dan dusun yang akan ia tuju. Ukuran mana yang lebih dekat, maka masukkanlah ia kepada golongan orang sana."

Kemudian tempat dimana orang dhalim itu terbujur tak bernyawa diukur terhadap dua dusun, yaitu jaraknya terhadap dusun yang akan dituju dan terhadap dusun yang ditinggalkan. Dusun yang dituju merupakan tempat tinggal orang-orang yang taat kepada Allah. Alhamdulilah, ternyata hasilnya ia lebih dekat kepada dusun yang akan dituju. Bedanya hanya kira-kira sejengkal saja.