Jumat, 20 April 2012

PERANG BADAR AL-KUBRA


TIK : 1. Adik mengetahui karakteristik sahabat pada perang Badar
         2. Adik menjadikan Rasulullah Saw dan para sahabat sebagai idola 
            dalam kehidupan sehari-hari.



Mendengar berita kedatangan kafilah dagang orang Quraisy dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajak para Shahabatnya untuk mencegat dan merampas kafilah tersebut dengan dalih sebagai pengganti kekayaan mereka yang dirampas sebagian kaum musyrikin di Mekkah. Hanya sebagian shahabat yang ikut karena yang lain menyangka tidak akan terjadi peperangan.
Di tengah perjalanan, ketika Abu Sufyan mendengar berita ini, maka ia mengirim utusan ke Mekkah untuk meminta bantuan. Maka seluruh kaum Quraisy  mempersiapkan diri untuk tujuan perang. Tak ada satu tokoh Quraisy pun yang ketinggalan dari keberangkatan pasukan sekitar seribu personel ini.
Sementara Rasulullah berangkat bersama 314 sahabatnya pada malam Ramadhan bersama 70 ekor unta yang dipakai bergantian. Mereka tidak mengetahui perihal bantuan dari Mekkah itu. Sementara kafilah Abu Sufyan berhasil lolos meninggalkan dan menyusuri mata air Badr melalui jalan pantaimenuju arah Mekkah.
Meskipun Abu Sufyan telah mengirim utusan kepada pasukan bahwa dirinya telah selamat, namun Abu Jahal tetap melanjtkan perjalanannya.
Maka, ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mendengar berita keberangkatan kaum Quraisy, beliau meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Kaum Muhajirin mendukung dan memandang baik pendiriannya, salah satunya Miqdad bin Amir dengan tegas menyatakan : “Ya, Rasulullah laksanakan apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap bersama Anda…” Tetapi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam tetap memandang mereka seraya berkata,” Kemukakanlah pandangan kalian  kepadaku wahai manusia.” Kemudian S’ad bin Muadz menjawab,” Demi Allah tampaknya kalian meminta ketegasan sikap kami, wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab,”Benar !!”. S’ad berkata’”Kami telah beriman kepada anda dan kami pun membenarkan kenabian dan kerasulan Anda. Kami pun telah menjadi saksi bahwa apa yang telah anda bawa adalah benar. Atas dasar itu kami menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Jalankanlah apa yang Anda kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi Allah , seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun  ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersama anda…”
Mendengar jawaban Sa’ad ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam merasa puas dan senang, kemudian beliau memerintahkan : “Berangkatlah dengan hati gembira, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan. Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan…”
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mulai menyebar intel untuk mencari tahu perihal pasukan musush, dan diketahui bahwa pasukan musuh berjumlah sekitar sembilan ratus sampai seribu dan disertai seluruh tokoh kaum Quraisy.
Musuh bergerak sampai di pinggir sebelah seberang lembah Badar Sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah tiba di pinggir lembah seberang lain dengan posisi nyaris sehadap dengan lawan, dekat mata air Badr.
Habbab bin Mundzir bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah  SWT yang tidak dapat diubah lagi ? Ataukah berdasrkan tipu muslihat peperangan ?” Rasulullah Menjawab :” tempat ini kupilih berdasrkan pendapat dan tipu muslihat bpeperangan.” Al-Habab mengusulkan :”Ya Rasulullah, jika demikian ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh, kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Pendapatmu sungguh baik.”
            Rasulullah kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh al-Habbab ra. Selain itu, Sa’d bin Mu’adz mengusulkan supayta dibuat arisy (kemah) untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai tempat perlindungan dengan harapan bila terjadi sesuatu dan lain hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dapat kembali dengan mudah dan selamat kepada kaum muslimin di Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat karena ketidakberadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka. Usulan ini disetujui, kemudian  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menenangkan jiwa para shabatanya dengan adanya dukungan dan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, sampai-sampai beliau menegaskan kepada mereka :”Di sini tempat kematian si Fulan dan si Fulan (dari kaum musyrikin), seraya meletakkan telapak tangannya di atas tanah. Akhirnya nama-nama yang disebutkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat yang telah ditunjukkannya itu. Selanjutnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam  dengan khusyu memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wata’ala, do’a yang dipanjatkannya adalah : “Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang dating dengan segala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkanlah mereka esok hari…”
            Beliau terus memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan merendahkan diri dan khusyu seraya menengadahkan tangan ke langit, sehingga karena merasa iba Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepadanya : “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memberikan janji yang telah diberikan kepadamu.”
Demikian pula dengan kaum muslimin, mereka ikut pula berdo’a kepada Allah Subhanahu wata’ala memohon pertolongan dengan penuh ikhlas dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Pada suatu pagi, tahun kedua Hijrah, mulailah pertempuran itu. Memulainya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil segenggam kerikil kemudian dilemparkannya kearah kaum Quraisy seraya berkata :”Hancurlah wajah-wajah mereka,” kemudian meniupkan kearah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Selain itu Allah mendukung kaum muslimin dengan mengirim bala bantuan Malaikat.  Hal tersebut disaksikan seorang Quraisy yang kelak masuk Islam. Abu  Sufyan bin Harits (bukan bin Harb)  menceritakan hal tersebut pada Abu Lahab tatkala Abu Lahab  menunggu-nunggu berita peretempuran.


“Demi Allah ! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kauim yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami sehingga sembelih sesuka hati mereka , dan mereka tawan kami semau mereka…! Dan demi Allah  ! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy …! Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih , menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!”
Akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan kemenangan besar. Dari pihak kaum Musyrikin terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang sedang dari kaum Muslimin syahid 14 orang.
Meskipun begitu, perang Badar ini meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi kaum Muslimin maupun kaum musyrikin. Bagi kaum Muslimin, perang ini merupakan perang yang sangat diagungkan, juga para peserta yang ikut di dalamnya. Shahabat-shahabat yang ikut dalam perang Badar selalu diutamakan oleh shahabat yang lainnya dalam segala hal.
Demikian juga kaum Musyrikin sangat menorehkan dndam dalam diri-diri mereka akan seorang prajurit gagah berani dan perkasa, yaitu Khubaib bin ‘Adi yang membunuh pemimpin Quraisy al-Harits bin ‘Amir bin Naufal. Maka tatkala kaum Quraisy berkesempatan menangkap Khubaib bin ‘Adi, mereka membalaskan dendamnya itu dengan amat keji. Khubaib disiksa dan disalib hingga syahid.Atau kebencian Hindun akan Hamzah yang telah membunuh Ayah dan anaknya, hingga membalaskan dendamnya pada perang berikutnya, dengan dibantu budak hitamnya.
Begitulah, kejadian Badar menggoreskan pelajaran berharga buat kita petik. Keta’atan para shahabat kepada Allah dan Rasul-Nya membuat mereka tak gentar dalam menghadapi maut, sekalipun jumlah yang sedikit dan persiapan yang kurang, namun tetap mereka katakan, “Kami bersama Anda, ya Rasulullah…!”
Maroji' :
-          Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy , Sirah Nabawiyah
-          Khalid Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enampuluh Shahabat Rasulullah
-          Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy, Sirah Shahabat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar