TIK : 1. Adik
mengetahui karakteristik sahabat pada perang Badar
2. Adik menjadikan Rasulullah Saw dan para sahabat sebagai idola
dalam kehidupan sehari-hari.
Mendengar berita kedatangan kafilah
dagang orang Quraisy dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb,
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajak para Shahabatnya untuk mencegat
dan merampas kafilah tersebut dengan dalih sebagai pengganti kekayaan mereka
yang dirampas sebagian kaum musyrikin di Mekkah. Hanya sebagian shahabat yang
ikut karena yang lain menyangka tidak akan terjadi peperangan.
Di tengah perjalanan, ketika Abu Sufyan
mendengar berita ini, maka ia mengirim utusan ke Mekkah untuk meminta bantuan.
Maka seluruh kaum Quraisy mempersiapkan
diri untuk tujuan perang. Tak ada satu tokoh Quraisy pun yang ketinggalan dari
keberangkatan pasukan sekitar seribu personel ini.
Sementara Rasulullah berangkat bersama
314 sahabatnya pada malam Ramadhan bersama 70 ekor unta yang dipakai
bergantian. Mereka tidak mengetahui perihal bantuan dari Mekkah itu. Sementara
kafilah Abu Sufyan berhasil lolos meninggalkan dan menyusuri mata air Badr
melalui jalan pantaimenuju arah Mekkah.
Meskipun Abu Sufyan telah mengirim
utusan kepada pasukan bahwa dirinya telah selamat, namun Abu Jahal tetap
melanjtkan perjalanannya.
Maka, ketika Rasulullah
shalallahu’alaihi wasallam mendengar berita keberangkatan kaum Quraisy, beliau
meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Kaum Muhajirin mendukung dan memandang
baik pendiriannya, salah satunya Miqdad bin Amir dengan tegas menyatakan : “Ya,
Rasulullah laksanakan apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap
bersama Anda…” Tetapi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam tetap memandang
mereka seraya berkata,” Kemukakanlah pandangan kalian kepadaku wahai manusia.” Kemudian S’ad bin
Muadz menjawab,” Demi Allah tampaknya kalian meminta ketegasan sikap kami,
wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab,”Benar !!”. S’ad berkata’”Kami telah
beriman kepada anda dan kami pun membenarkan kenabian dan kerasulan Anda. Kami
pun telah menjadi saksi bahwa apa yang telah anda bawa adalah benar. Atas dasar
itu kami menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia
kepada anda. Jalankanlah apa yang Anda kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi
Allah , seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersama
anda…”
Mendengar jawaban Sa’ad ini Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam merasa puas dan senang, kemudian beliau
memerintahkan : “Berangkatlah
dengan hati gembira, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah
menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan. Demi Allah, aku
seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan…”
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam mulai menyebar intel untuk mencari tahu perihal pasukan musush, dan
diketahui bahwa pasukan musuh berjumlah sekitar sembilan ratus sampai seribu
dan disertai seluruh tokoh kaum Quraisy.
Musuh bergerak sampai di pinggir
sebelah seberang lembah Badar Sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
telah tiba di pinggir lembah seberang lain dengan posisi nyaris sehadap dengan
lawan, dekat mata air Badr.
Habbab bin Mundzir bertanya kepada Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam : “Ya
Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah SWT yang tidak dapat diubah lagi ? Ataukah
berdasrkan tipu muslihat peperangan ?” Rasulullah Menjawab :” tempat ini
kupilih berdasrkan pendapat dan tipu muslihat bpeperangan.” Al-Habab
mengusulkan :”Ya Rasulullah, jika demikian ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah
pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh, kita membuat kubu
pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat
kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan
berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum yang cukup, sedangkan
musuh tidak akan memperoleh air minum.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam menjawab :”Pendapatmu sungguh
baik.”
Rasulullah
kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh al-Habbab ra. Selain
itu, Sa’d bin Mu’adz mengusulkan supayta dibuat arisy (kemah) untuk Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai tempat perlindungan dengan harapan bila
terjadi sesuatu dan lain hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam dapat kembali dengan mudah dan selamat kepada kaum muslimin di
Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat karena ketidakberadaan Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka. Usulan ini disetujui, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
menenangkan jiwa para shabatanya dengan adanya dukungan dan pertolongan Allah
Subhanahu wata’ala, sampai-sampai beliau menegaskan kepada mereka :”Di sini tempat kematian si Fulan dan si
Fulan (dari kaum musyrikin), seraya meletakkan telapak tangannya di atas tanah.
Akhirnya nama-nama yang disebutkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat
yang telah ditunjukkannya itu. Selanjutnya Rasulullah shalallahu’alaihi
wasallam dengan khusyu memanjatkan do’a
kepada Allah Subhanahu wata’ala, do’a yang dipanjatkannya adalah : “Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang dating
dengan segala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi engkau dan
mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau
berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkanlah mereka esok hari…”
Beliau
terus memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan merendahkan diri
dan khusyu seraya menengadahkan tangan ke langit, sehingga karena merasa iba
Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan
berkata kepadanya : “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya,
bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memberikan janji yang telah
diberikan kepadamu.”
Demikian pula dengan kaum muslimin, mereka
ikut pula berdo’a kepada Allah Subhanahu wata’ala memohon pertolongan dengan
penuh ikhlas dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Pada suatu pagi, tahun kedua Hijrah,
mulailah pertempuran itu. Memulainya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
mengambil segenggam kerikil kemudian dilemparkannya kearah kaum Quraisy seraya
berkata :”Hancurlah wajah-wajah mereka,”
kemudian meniupkan kearah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy.
Selain itu Allah mendukung kaum muslimin dengan mengirim bala bantuan
Malaikat. Hal tersebut disaksikan
seorang Quraisy yang kelak masuk Islam. Abu
Sufyan bin Harits (bukan bin Harb)
menceritakan hal tersebut pada Abu Lahab tatkala Abu Lahab menunggu-nunggu berita peretempuran.
“Demi Allah ! Tiada berita, kecuali bahwa
kami menemui suatu kauim yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami
sehingga sembelih sesuka hati mereka , dan mereka tawan kami semau mereka…! Dan
demi Allah ! Aku tak dapat menyalahkan
orang-orang Quraisy …! Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih
mengendarai kuda hitam belang putih , menyerbu dari antara langit dan bumi,
tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!”
Akhirnya peperangan dimenangkan oleh
kaum Muslimin dengan kemenangan besar. Dari pihak kaum Musyrikin terbunuh 70
orang dan tertawan 70 orang sedang dari kaum Muslimin syahid 14 orang.
Meskipun begitu, perang Badar ini
meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi kaum Muslimin maupun kaum musyrikin.
Bagi kaum Muslimin, perang ini merupakan perang yang sangat diagungkan, juga
para peserta yang ikut di dalamnya. Shahabat-shahabat yang ikut dalam perang
Badar selalu diutamakan oleh shahabat yang lainnya dalam segala hal.
Demikian juga kaum Musyrikin sangat
menorehkan dndam dalam diri-diri mereka akan seorang prajurit gagah berani dan
perkasa, yaitu Khubaib bin ‘Adi yang membunuh pemimpin Quraisy al-Harits bin
‘Amir bin Naufal. Maka tatkala kaum Quraisy berkesempatan menangkap Khubaib bin
‘Adi, mereka membalaskan dendamnya itu dengan amat keji. Khubaib disiksa dan
disalib hingga syahid.Atau kebencian Hindun akan Hamzah yang telah membunuh
Ayah dan anaknya, hingga membalaskan dendamnya pada perang berikutnya, dengan
dibantu budak hitamnya.
Begitulah, kejadian Badar menggoreskan
pelajaran berharga buat kita petik. Keta’atan para shahabat kepada Allah dan
Rasul-Nya membuat mereka tak gentar dalam menghadapi maut, sekalipun jumlah
yang sedikit dan persiapan yang kurang, namun tetap mereka katakan, “Kami
bersama Anda, ya Rasulullah…!”
Maroji' :
-
Dr.
Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy , Sirah Nabawiyah
-
Khalid
Muh. Khalid, Karakteristik Perihidup Enampuluh Shahabat Rasulullah
-
Syaikh
Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy, Sirah Shahabat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar